Berusaha memberikan manfaat dalam memberdayakan masyarakat.

Sociopreneurship?! (2)

Salam Wirausaha!

Yap! Kali ini kita akan melanjutkan pembahasan mendasar mengenai sociopreneur dan sociopreneurship! 🙂

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar. Memiliki kekayaan berupa sumber daya alam yang melimpah. Namun, dibalik segala keunggulan yang dimiliki, bangsa ini memiliki berbagai macam masalah sosial-ekonomi yang berdampak secara langsung bagi kemajuan bangsa ini sendiri. Salah satu contoh masalah sosial-ekonomi di Indonesia adalah masalah pengangguran. Tingkat pengangguran di Indonesia masih terbilang tinggi. Pada bulan November 2011, berdasarkan survey yang dilakukan oleh BPS, angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,7 juta orang. Angka yang terhitung ‘menurun’ jika dibandingkan dengan angka pengangguran di bulan Februari 2011 yang menembus 8,12 juta orang. Tentunya angka yang menurun ini bukanlah sebuah kabar yang gembira bagi kita. Karena angka dan kenyataan sebenarnya bisa saja berbeda. Selain masalah pengangguran, masih ada beberapa masalah sosial-ekonomi lainnya yang belum terselesaikan seperti tingginya angka kemiskinan, kesenjangan sosial dan tidak meratanya pendapatan masyarakat.

Kewirausahaan menjadi solusi untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Kewirausahaan memiliki peran dalam perubahan masyarakat. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dalam memecahkan masalah masyarakat, itulah wirausaha. Dulu, kewirausahaan selalu dipandang dalam sudut pandang yang sempit, yaitu hanya untuk kepentingan bisnis. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman dan peningkatan jumlah masalah sosial, ada beberapa perubahan dalam bidang bisnis. Terlahirlah manajemen bisnis yang bermisi sosial.  Konsep ini jelas diterima masyarakat, hingga pada akhirnya menghasilkan sebuah apresiasi terhadap kewirausahan sosial yang diwakili oleh terpilihnya Muhammad Yunus (pendiri Grameen Bank) sebagai penerima nobel perdamaian.

Menurut Gregory Dees, Sociopreneurship adalah kombinasi dan semangat besar dalam misi sosial dengan disiplin, inovasi, dan keteguhan seperti yang lazim berlaku di dunia bisnis. Sociopreneur menciptakan dan memimpin organisasi yang ditujukan sebagai katalisator perubahan sosial dalam tatanan sistem melalui gagasan baru, produk, jasa, metodologi dan perubahan sosial (Yayasan Schwab), Disini kita melihat adanya hubungan antara metode bisnis dengan penciptaan nilai sosial. Dan menurut Bill Drayton, ada beberapa karakteristik kewirausahaan sosial, yaitu:

  • Mengenali adanya masalah dalam kehidupan masyarakat
  • Memecahkan masalah dengan mengubah sistemnya, menyebarluaskan pemecahannya dan meyakinkan seluruh masyarakat
  • Memberikan ‘umpan dan kail’, bukan memberikan ‘ikan’

Banyak sekali peranan sang sociopreneur dalam kehidupan masyarakat. Mereka membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, mengatasi kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, memanfaatkan sumber daya ekonomi untuk mencapai produktivitas masyarakat, mengusahakan pemerataan pendapatan, hingga memajukan pertumbuhan ekonomi. Sudah saatnya kita menbangun Indonesia lewat sociopreneur. Sociopreneur melihat sebuah masalah sebagai peluang bisnis. Tentunya, hasil yang ingin dicapai bukanlah materi semata, melainkan sejauh mana ide dan gagasan kita menjadi berdampak bagi masyarakat. Selain itu, Sociopreneur tidak hanya berperan di bidang ekonomi saja, tetapi juga sebagai sarana penyebaran nilai-nilai sosial kepada masyarakat. Inilah bedanya kewirausahaan ‘biasa’ yang bermisi bisnis dengan kewirausahaan ‘spesial’ yang bermisi sosial. Kewirausahaan sosial memberikan pesan kepada kita untuk terus peduli dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Ketika terjadi kemiskinan yang marak dan ketidakadilan sosial, kewirausahaan sosial adalah jawabannya.” – Muhammad Yunus

Iklan

Sociopreneurship?! (1)

Sociopreneurship dan sociopreneur. Mungkin masih banyak diantara kita yang masih awam akan istilah ini. Dengan akhiran kata “-preneur”, pastinya kita akan mengaitkannya dengan kata “entrepreneur”. Pengusaha.  Betul sekali, Sociopreneurship merupakan salah satu bagian dari entrepreneurship (kewirausahaan). Namun, sebelum kita menjelaskan apa itu sociopreneur, ada baiknya kita mendalami pengertian dari entrepreneurship dan entrepreneur sendiri.

Entrepreneurship dalam bahasa Indonesia memiliki arti kewirausahaan. Menurut Simposium Nasional Kewirausahaan 1995, kewirausahaan adalah sikap, kemampuan dan tindakan nyata seseorang dalam menangani kegiatan usaha yang mengarahkan pelayanan kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Dari pengertiannya saja kita bisa menyimpulkan bahwa kegiatan usaha itu sebenarnya enggak melulu berorientasi kepada bisnis dan profit semata.  Dan ada bentuk ‘pelayanan’ kepada masyarakat, bangsa dan negara. Dengan kata lain, menjadi seorang entrepreneur adalah keharusan bagi kita. Sebab, entrepreneur merupakan profesi yang bermanfaat bagi banyak pihak. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Mau kan menjadi manusia yang baik? maka berikanlah manfaat! 🙂

Entrepreneur merupakan sang pelaku. Manusia yang cenderung langka dan spesial. Mengapa spesial? Menurut Edvardson ada beberapa ciri-ciri super dari seorang Entrepreneur yaitu:

  1. Fokus! Memiliki ketetapan hati
  2. Selalu bersemangat
  3. Motivasi yang tinggi akan sebuah prestasi
  4. Memiliki toleransi terhadap berbagai macam pendapat
  5. Percaya diri
  6. Action! Berorientasi kepada tindakan nyata

Dan ciri utama dari seorang entrepreneur adalah Berani mengambil resiko (Risk taker). Banyak orang yang bercita-cita menjadi entrepreneur, bahkan sudah memiliki konsep yang matang mengenai usahanya. Namun, tersendat oleh berbagai macam pertimbangan hanya karena takut akan resiko kegagalan. Menurut Pak Saptuari (pemilik usaha kedai digital), setiap orang pasti memiliki jatah gagal. Kalau kita sudah pernah gagal, berarti jatah gagal kita berkurang kaan? So, jangan takut untuk memulai usaha, teman! 🙂

Naah, untuk pengertian mendetail tentang sociopreneur, tunggu postingan selanjutnya yaa!

Salam Wirausaha! 😀